SDN TARO'AN

Alamat : Desa Taro'an Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan -Email : sdntaroan@gmail.com, NPSN : 20527086, Kode Pos : 69371

Selasa, 29 Juli 2025

Sintaks Model Pembelajaran & Komponen Pengembangannya

 




Sintaks Model Pembelajaran & Komponen Pengembangannya

1 Komponen-Komponen Model Pembelajaran

1.1 Pengertian Sintaks Model Pembelajaran

1.2 Sistem Sosial

1.2.1 Kriteria Sistem Sosial

1.3 Prinsip Reaksi

1.3.1 Kriteria Prinsip Reaksi

1.4 Sistem Pendukung

1.4.1 Kriteria sistem pendukung

1.5 Dampak Instruksional dan Pengiring

2 Pengembangan Model Pembelajaran

2.1 Contoh Analisis Perbandingan Komponen Model Pembelajaran

2.2 Contoh Inovasi untuk Pengembangan Model Pembelajaran

3 Referensi

3.1 Artikel Terkait

Sintaks model pembelajaran merupakan acuan umum mengenai bagaimana suatu pembelajaran dilaksanakan agar sesuai dengan kaidah dan hasil yang diinginkan dari model pembelajaran tersebut. Misalnya, jika kita ingin menerapkan model pembelajaran Discovery Learning, maka kita harus menerapkan berbagai sintaksnya seperti memberikan stimulus, pernyataan masalah, dan memberikan fasilitas untuk melakukan penelitian ilmiah, sehingga siswa bisa mendapatkan pengetahuannya sendiri secara mandiri, sesuai dengan gagasan utama dari model pembelajaran ini.

Namun demikian dalam pelaksanaan suatu model pembelajaran, tentunya akan ditemui berbagai kendala dan ketidakcocokan akan berbagai konteks yang menyelubunginya. Misalnya, dalam pelaksanaan model pembelajaran Discovery Learning, ditemukan bahwa tidak semua siswa mampu melakukan penelitian ilmiah dengan baik, meskipun sudah diberikan fasilitas yang memadai seperti berbagai data valid yang bisa mereka olah untuk mendapatkan suatu pengetahuan. Setelah melaksanakannya, kita mendapatkan berbagai asumsi untuk memaksimalkannya, dan pada saat seperti inilah kebutuhan akan pengembangan model pembelajaran dirasakan.

Pengembangan model pembelajaran, baik yang dibuat dari awal maupun memodifikasi suatu model pembelajaran yang telah ada merupakan kebutuhan bahkan keharusan nyata yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya, terutama di abad-21 ini. Hal ini karena suatu model pembelajaran tidak dilahirkan pada lingkungan, demografi, situasi dan kondisi yang sama persis dengan keadaan di mana model tersebut diujicobakan. Mudahnya, model pembelajaran tertentu mungkin diciptakan berpuluh-puluh tahun lalu dengan sampel murid-murid di sekolah Amerika yang tentunya memiliki banyak perbedaan dengan sekolah, budaya, dan perkembangan siswa-siswa di Indonesia.

Dengan demikian, pengembangan model pembelajar amatlah krusial dan memiliki urgensi tinggi sehingga sering dijadikan judul skripsi atau karya ilmiah lain. Agar mampu mengembangkan suatu model pembelajaran dengan baik tanpa menanggalkan konsep utamanya, maka kita harus benar-benar mengerti dan memahami sintaks model pembelajaran. Hal tersebut karena sintaks model pembelajaran merupakan pilar utama yang membuat suatu pembelajaran memberikan dampak dan hasil yang berbeda dari model lainnya. Berikut adalah berbagai pembahasan mengenai sintaks model pembelajaran dan berbagai komponen lainnya dalam kaitannya dengan pengembangannya.

Komponen-Komponen Model Pembelajaran

Sintaks model pembelajaran merupakan salah satu komponen dari model pembelajaran. Meskipun sintaks dapat dikatakan sebagai komponen terpenting dari suatu model, hal ini bukan berarti komponen-komponen lain tidak dibutuhkan. Seperti istilahnya, komponen merupakan bagian-bagian yang menjadikan suatu kesatuan menjadi utuh, sehingga dengan tanggalnya salah satu komponen, suatu hal tidak dapat disebut sebagai kesatuan tersebut, dan hal tersebut juga berlaku untuk model pembelajaran.

Model pembelajaran memiliki komponen-komponen[1], yaitu: (1) sintaks, (2) sistem sosial, (3) prinsip reaksi, (4) sistem pendukung, dan (5) dampak instruksional dan pengiring (Utomo, 2020, hlm. 43). Dengan demikian, pengembangan model pembelajaran juga harus memperhatikan seluruh komponennya agar menghasilkan pengembangan baik yang tidak menanggalkan konsep utama dari suatu model pembelajaran secara holistik. Berikut adalah pembahasan komprehensif dari masing-masing komponen model pembelajaran.

Pengertian Sintaks Model Pembelajaran

Sintak (bermakna nama pohon di KBBI) atau tepatnya sintaks adalah acuan umum berupa keseluruhan alur kegiatan pembelajaran dalam suatu model pembelajaran[2]. Seperti yang diungkapkan Arends (dalam Utomo, 2020, hlm. 60) bahwa sintaks merupakan keseluruhan alur atau urutan kegiatan pembelajaran. Sintaks menentukan jenis-jenis tindakan guru, urutannya, dan tugas-tugas untuk siswa.

Contohnya adalah bagaimana model pembelajaran Discovery Learning harus melewati fase-fase: stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, dan generalization[3]. Setiap fase harus diisi dengan tindakan atau kegiatan yang relevan agar proses pembelajaran mengarah pada sintaks yang sesuai. Misalnya, dalam fase stimulation guru dapat memulai pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan Discovery Learning.

Tentunya setiap model pembelajaran memiliki urutan dan fase yang berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Sintaks dapat dideskripsikan sebagai urutan kegiatan-kegiatan yang disebut fase; setiap model pembelajaran mempunyai alur fase yang berbeda-beda (Joyce & Weil dalam Utomo, 2020, hlm. 61). Setiap sintaks yang dimiliki model pembelajaran merupakan serangkaian fase untuk mencapai ide pokok atau gagasan serta tujuan yang ingin dicapai dalam model pembelajaran tersebut.

Dapat disimpulkan bahwa sintaks model pembelajaran adalah acuan umum atau keseluruhan alur kegiatan pembelajaran berupa serangkaian fase-fase untuk mencapai ide pokok atau gagasan serta tujuan yang ingin dicapai dalam suatu model pembelajaran.

Sistem Sosial

Menurut Joyce & Weil (dalam Utomo, hlm. 65) sistem sosial menyatakan peran dan hubungan guru dan siswa, serta jenis-jenis norma yang dianjurkan. Dengan kata lain, sistem sosial suatu model pembelajaran mendefinisikan apa saja yang harus diperankan guru, bagaimana keterhubungan sosial antara siswa dengan siswa lainnya dan guru.

Misalnya, dalam model pembelajaran tertentu, guru berperan sebagai fasilitator dan moderator agar siswa aktif berdiskusi satu sama lain. Sementara itu di model pembelajaran lain bisa jadi terdapat fase Guru menjadi penceramah dan siswa hanya menjadi pendengar pasif.

Hubungan guru-siswa dan siswa ke siswa harus diarahkan sedemikian rupa agar terwujud prinsip-prinsip tertentu. Prinsip-prinsip tertentu yang dimaksud dalam model pembelajaran bisa jadi harus mengandung:

1.    demokrasi,

2.    kerjasama,

3.    tanggung jawab pada diri sendiri dan kelompok, dan

4.    kesamaan derajat.

Prinsip-prinsip yang diusung dalam sistem sosial ini tentunya akan berbeda antara model pembelajaran satu dengan yang lainnya.

Kriteria Sistem Sosial

Beberapa kriteria yang harus diperhatikan dari sistem sosial dapat berupa:

1.    Aksi komunikasi satu arah,

2.    Interaksi/Komunikasi dua arah, dan

3.    Komunikasi banyak arah.

Artinya, kita dapat menganalisis suatu model pembelajaran berdasarkan macam komunikasinya. Bagaimana aksi komunikasi satu arah yang terjadi? Apakah terjadi banyak interaksi atau komunikasi dua arah yang terjadi? Apakah model pembelajaran dapat memberikan dampak baik pada komunikasi banyak arah? Dsb.

Prinsip Reaksi

Menurut Joyce & Weil (1992, dalam Utomo, hlm. 66) prinsip reaksi berkaitan dengan bagaimana cara guru memperhatikan dan memperlakukan siswa, termasuk bagaimana guru memberikan respons terhadap pertanyaan, jawaban, tanggapan atau apa saja yang dilakukan siswa.

Menurut Utomo (2020, hlm. 66) berbagai aktivitas guru berdasarkan prinsip-prinsip reaksi yang perlu diwujudkan dalam model pembelajaran adalah sebagai berikut.

1. Memberikan perhatian pada setiap interaksi antar siswa apakah sudah kondusif dalam mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Interaksi dalam kelompok kecil maupun dalam kelas.

2.    Memberikan perhatian dan pemantauan terhadap kelancaran kerja kelompok.

3.    Memberikan perhatian pada perilaku siswa dominan dan siswa submisif.

4.  Menyediakan dan mengelola sumber belajar yang dapat mendorong siswa untuk menjalankan aktivitas belajar dan pemecahan masalah.

5.    Memberikan bimbingan belajar kepada setiap kelompok yang membutuhkan tanpa memberikan jawabannya langsung.

6.    Mengarahkan siswa untuk mengonstruksi pengetahuannya melalui aktivitas belajar dalam kelompok.

7. Penunjuk siswa secara random sebagai wakil kelompok untuk mempresentasikan basil kerja kelompoknya. Dengan cara ini diharapkan setiap siswa akan mempersiapkan diri dengan jalan memahami hasil kerja (tugas-tugas) yang diberikan kepada kelompoknya.

8.    Memberikan respon segera bila dominansi dan submisifi tas siswa muncul, dengan jalan mengurangi dominasi siswa dominan atau mendorong partisipasi siswa submisif.

9.   Memberikan respon terhadap pertanyaan siswa hanya bila pertanyaan tersebut diajukan atas nama kelompok.

10.   Memberikan pelatihan kepada siswa dominan dan siswa submisif tentang bagaimana belajar secara kooperatif.

11.    Memberikan pelatihan kepada siswa teatang bagaimana menjadi moderator yang baik. Mekanisme interaksi dalam kerja kelompok perlu diatur sedemikian rupa oleh seorang moderator agar: a) tercipta pemerataan peran kepemimpinan dan partisipasi dari seluruh anggota pada setiap kelompok belajar, b) dominasi siswa dominan dapat dikurangi dan peran dan partisipasi siswa submisif dapat ditingkatkan, dan c) setiap keputusan yang diambil melalui mekanisme konsensus.

Kriteria Prinsip Reaksi

Beberapa kriteria yang harus diperhatikan pada prinsip reaksi suatu model pembelajaran dapat berupa:

1.    Memberikan kesempatan peserta didik bertanya kepada guru,

2.    Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan,

3.    Siswa memberikan tanggapan atau kritik terhadap pendapat rekannya.

Sistem Pendukung

Sistem pendukung model pembelajaran adalah semua sarana, bahan, dan alat yang diperlukan untuk menerapkan model pembelajaran (Joyce & Weil, 1992, dalam Utomo, 2020, hlm. 67). Dalam suatu pembelajaran tentunya guru perlu menyiapkan sarana, bahan, dan alat untuk mendukung model pembelajaran tersebut. Sarana, bahan dan alat tersebut meliputi buku siswa, rencana pembelajaran, lembar kerja siswa, alat evaluasi, media pembelajaran seperti proyektor LCD, slideshow powerpoint, dsb.

Kriteria sistem pendukung

Beberapa kriteria yang dapat diperhatikan dalam sistem pendukung meliputi:

1.    Media pembelajaran,

2.    Instrumen pembelajaran,

3.    Sumber pembelajaran,

4.    Alat pembelajaran.

Dampak Instruksional dan Pengiring

Menurut Joyce & Weil (1992, dalam Utomo, 2020, hlm. 68), dampak instruksional adalah hasil belajar dicapai langsung dengan mengarahkan para siswa pada tujuan yang diharapkan. Sementara itu, dampak pengiring adalah hasil belajar lainnya yang dihasilkan oleh suatu es pembelajaran sebagai akibat terciptanya suasana belajar yang dialami langsung siswa tanpa pengarahan langsung dari guru.

Dampak instruksional yang perlu diwujudkan dalam model pembelajaran tentunya amatlah bervariasi tergantung dari model pembelajarannya sendiri. Misalnya, dalam model pembelajaran tertentu, dampak instruksional dapat berupa: pemahaman bahan ajar, kemampuan dalam pemecahan masalah, dan keterampilan kooperatif, keterampilan produktif untuk menulis teks, dsb.

Pengembangan Model Pembelajaran

Dalam praktik pengembangan model pembelajaran, seluruh komponen model pembelajaran haruslah diperhatikan. Mengapa? Melalui analisis komprehensif terhadap setiap komponen model pembelajaran kita dapat mengetahui komponen mana saja yang perlu dimodifikasi atau disesuaikan dengan kebutuhan kita.

Salah satu cara yang paling aplikatif untuk memulai pengembangan model pembelajaran adalah dengan membandingkan beberapa pelaksanaan model pembelajaran yang ingin kita kembangkan. Artinya, kita harus melakukan studi literatur terhadap pelaksanaan model pembelajaran yang ingin dikembangkan. Ambil contoh, pilihlah dua jurnal ilmiah yang memuat pelaksanaan tindakan kelas yang menggunakan model pembelajaran yang ingin kita kembangkan.

Misalnya, kita ingin mengembangkan model pembelajaran picture and picture, maka carilah referensi jurnal ilmiah atau skripsi yang melakukan penelitian terhadap model tersebut. Selanjutnya, bandingkan setiap komponen-komponen model pembelajaran pada dua karya ilmiah tersebut untuk mengetahui perbedaannya. Ketahui juga bagaimana pelaksanaan dan dampaknya. Dengan demikian, kita dapat menentukan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pelaksanaan model pembelajaran.

Setelah melakukan analisis perbandingan model pembelajaran pada kedua sumber studi literatur, maka kita dapat menentukan celah inovasi yang diperlukan. Misalnya, kita dapat menambal kekurangan komponen sistem pendukung dengan menciptakan media pembelajaran yang dapat memberikan bantuan lebih baik dari pada kedua pelaksanaan model pembelajaran tersebut.

Contoh Analisis Perbandingan Komponen Model Pembelajaran

Sebagai contoh, berikut adalah analisis perbandingan komponen pembelajaran dari dua sampel pelaksanaan model pembelajaran pada karya ilmiah yang telah diterbitkan.

No.

Komponen Model Pembelajaran

Analisis Perbandingan

Keterangan

Jurnal 1

Jurnal 2

1.

Sintaks

Pendahuluan

Mempersiapkan pembelajaran

Apersepsi: menanyakan apa yang sudah dipelajari

Bertanya jawab tentang materi yang sudah dan belum dipelajari

Menyampaikan tujuan dan alur pembelajaran

Kegiatan Inti

Guru meyiapkan dan menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.

Meyajikan materi sebagai pengantar.

Laporan penelitian 1 mengantarkan materi, kemudian memberikan contoh, sementara Laporan 2 memberikan contoh terlebih dahulu, baru menguatkan materi

Guru menujukkan atau memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi.

Guru menujuk atau memanggil siswa secara bergantian memasang atau mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.

Laporan penelitian 1 melakukan tahap ini dengan membagi kelompok kecil pada siswa, sehingga semua kelompok mengurutkan gambar, tidak hanya beberapa siswa yang ditunjuk saja

Guru menayakan alasan atau dasar pemikiran urutan gambar tersebut

Laporan 1 meminta alasan pengurutan melalui tugas kelompok yang akan dipresentasikan

Dari alasan/urutan gambar tersebut guru mulai menanamkan konsep atau materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.

Guru memberikan kesimpulan terhadap pekerjaan yang telah dilakukan oleh siswa dalam pembelajaran.

Pada laporan penelitian 1, Guru tidak memberikan kesimpulan, namun meminta setiap kelompok untuk merangkum pembelajaran

Penutup

Peserta didik merefleksi hasil kegiatan pembelajaran

Guru menanamkan konsep atau materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.

Laporan penelitian 2 menanamkan konsep materi dengan praktik langsung berbarengan dengan ceramah

Guru memberikan kesimpulan terhadap tugas atau pekerjaan yang telah siswa lakukan dalam pembelajaran.

Pada laporan penelitian 1, Guru tidak memberikan kesimpulan, namun meminta setiap kelompok untuk merangkum pembelajaran

2.

Sistem Sosial

Aksi komunikasi satu arah

Keduanya masih menggunakan ceramah namun tidak menjadi model pembelajaran utama

Interaksi / Komunikasi dua arah

Komunikasi banyak arah

Laporan penelitian 1 lebih terkontrol melalui pembagian kelompok, laporan penelitian 2 menanggulangi kegaduhan kelas dengan cara lebih banyak melakukan motivasi dan pancingan-pancingan pertanyaan

3.

Prinsip Reaksi

Memberikan kesempatan peserta didik bertanya kepada guru

Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjawab pertanyaan

Siswa memberikan tanggapan atau kritik terhadap pendapat rekannya

Laporan penelitian 1 melalui presentasi rekan dapat bertanya atau memberikan pendapatnya pada kelompok yang sedang presentasi

4.

Sistem Pendukung

Media Pembelajaran

Keduanya menggunakan proyektor LCD, slideshow power point, dan gambar cetak.

Instrumen Pembelajaran

Sumber Pembelajaran

Bahan Pembelajaran

Alat Pembelajaran

Sumber: (Thabroni, 2021).

Contoh Inovasi untuk Pengembangan Model Pembelajaran

Berdasarkan analisis di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa terdapat celah inovasi pada komponen sistem pendukung, berupa media interaktif yang dapat menggantikan slideshow powerpoint dan gambar cetak. Media interaktif tersebut dapat berupa Video Games pengurutan gambar yang dapat diakses oleh seluruh siswa untuk mengikuti model pembelajaran picture and picture.

Dengan demikian, kita bisa mendapatkan kelebihan dari komponen sistem sosial penelitian 1 berupa interaksi langsung dari siswa untuk mengurutkan gambar, namun  menanggalkan kekurangannya yakni tidak semua siswa akan mengurutkan gambar. Media pembelajaran interaktif tersebut juga tentunya akan menggabungkan kelebihan dari kedua penelitian yang sebelumnya telah dilakukan.

Referensi

1.    Joyce, B. R., Weil, M., & Calhoun, E. (2016). Models of teaching. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

2.    Thabroni, G. (2020). Pengembangan model pembelajaran picture and picture berbantuan media ict pada pembelajaran menulis teks eksplanasi. Thesis (S1) IKIP Siliwangi.

3. Utomo, D.P. (2020). Mengembangkan model pembelajaran. Yogyakarta: Bildung.

4.   models of teaching (sunithasusanbinu.blogspot.com)

Sumber : Sintaks Model Pembelajaran & Komponen Pengembangannya - serupa.id



[1] Penjelasan tentang komponen atau elemen dasar Model Pembelajaran, silakan lihat Link Berikut ;

v  models of teaching (sunithasusanbinu.blogspot.com)

v  Models of Teaching (learningclassesonline.com)

v  Teaching Model : Meaning, Characteristics and Functions - Samar Education

v  The Components Of Models Of Teaching - 2003 Words | Cram

v  Teaching Model: Meaning of Teaching Model, Characteristics of Teaching Model and Elements of Teaching Model – Online Note Bank (wordpress.com)

v  models of teaching - Learn about education and B.Sc. Physics (physicscatalyst.com)

v  (PDF) Unit -IV MODELS OF TEACHING Model of teaching: Meaning, definitions, and function-Models: Philosophical teaching models: Insight model (Plato) Impression model (Jhon Locke) and Rule model (kanl)-Psychological models: Basic teaching model (Robert Glasser) (researchgate.net)

v  Pedagogical Models of Teaching, Definition, Uses and Elements | Study Lecture Notes

v  Microsoft Word - LECTURE 27 TEXT.docx (inflibnet.ac.in)

v  Models of Teaching| All You Need to Know (teachmint.com)

v  MODELS OF TEACHING | Dr. V.K. Maheshwari, Ph.D (vkmaheshwari.com)

v  CHAPTER 25: Models of Teaching : MODELS OF TEACHING (elainelouisesalonga-edtech.blogspot.com)

v  Models OF Teaching - B Ed pedagogy notes - MODEL OF TEACHING It is a plan or pattern that can be - Studocu

v  Module-2-_Models-of-Teaching_.pdf (kudbhattacharyya.com)

v  Models of Teaching - The Second Principle

v  Microsoft PowerPoint - 38- Models of Teaching-- Meaning & concept, Characteristics and Types - Copy (csjmu.ac.in)

Rabu, 23 Juli 2025

Permendikdasmen 13 Tahun 2025: Isi Lengkap dan Dampaknya untuk Sekolah

 

Permendikdasmen 13 Tahun 2025: Isi Lengkap dan Dampaknya untuk Sekolah

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meresmikan hadirnya Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 sejak Selasa (15/7/2025). Apa isinya?

Secara singkat Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 berisi tentang berbagai perubahan yang terjadi pada kurikulum jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Perubahan yang dimaksud merujuk pada Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbudristek) Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum. Dilansir detikEdu dari aturan terkait, Permendikbudristek 12/2024 terdiri dari 5 BAB dan 34 Pasal.

Namun, sebagai catatan, Permendikdasmen 13/2025 tidak mengubah seluruh isi Permendikbudristek 12/2024. Sehingga, Permendikdasmen hanya memiliki 2 Pasal pembahasan.

Pasal pertama membahas adanya 8 perubahan dari Permendikbudristek 12/2024 dan 1 pasal tambahan baru. Sedangkan pasal kedua berbunyi tentang tanggal berlakunya Peraturan Menteri tersebut sejak diundangkan atau pada 15 Juli 2025 lalu.

Agar memudahkan pemahamanmu, berikut ini isi lengkap Permendikdasmen 13 Tahun 2025 tentang Kurikulum dikutip dari aturan terkait, Senin (21/7/2025).

Isi Lengkap Permendikdasmen 13 Tahun 2025

Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 tentang Kurikulum pada Pendidikan Anak Usia Dini, Jenjang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah diubah sebagai berikut:

1.    Pasal 3 tentang Kerangka Dasar Kurikulum

Ayat (2) Pasal 3 tentang kerangka dasar kurikulum pada Kurikulum Merdeka diubah dengan menghilangkan aspek karakteristik pembelajaran dan penambahan pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) dalam kerangka kurikulum. Dengan begitu, kerangka dasar kurikulum memuat 6 komponen utama, yakni:
Tujuan
Prinsip
Landasan filosofis
Landasan sosiologis
Landasan psikopedagogis
Pendekatan pembelajaran mendalam.

 

2.    Pasal 6 tentang Struktur Kurikulum
Semula, struktur kurikulum berlaku bagi 10 jenjang pendidikan. Namun, Permendikdasmen menghilangkan poin f yakni struktur kurikulum bagi taman kanak-kanak luar biasa.


Di Permendikdasmen terbaru, struktur kurikulum berlaku bagi:
Struktur kurikulum PAUD atau bentuk lain yang sederajat
Struktur kurikulum SD, MI, atau yang sederajat
Struktur kurikulum SMP, MTs, atau yang sederajat
Struktur kurikulum SMA, MA, atau yang sederajat
Struktur kurikulum SMK atau MAK
Struktur kurikulum SDLB dan MILB
Struktur kurikulum SMPLB dan MTsLB
Struktur kurikulum SMALB dan MALB
Struktur kurikulum satuan pendidikan penyelenggara pendidikan kesetaraan.

 

3.    Pasal 16 tentang Kokurikuler
Kokurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di luar jam pelajaran untuk memperkuat materi pembelajaran yang telah didapatkan murid di kelas. Pada Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, Kokurikuler berkaitan dengan profil pelajar Pancasila.


Sedangkan pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2025, Kemendikdasmen menghilangkan "Profil Pelajar Pancasila" dan menggantinya dengan pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan/atau cara lainnya.

Pada lembaga pendidikan kesetaraan, kokurikuler bisa dilakukan dengan cara pemberdayaan dan peningkatan keterampilan.

 

4.    Pasal 17 tentang Kompetensi Kokurikuler
Perubahan selanjutnya hadir di Pasal 17, di mana Kemendikdasmen kembali merubah kompetensi Kokurikuler pada projek penguatan profil pelajar Pancasila. Di aturan terbaru, kompetensi Kokurikuler dirumuskan untuk memperkuat:


Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi.


5.    Pasal 18 tentang Muatan Pembelajaran
Permendikdasmen 13/2025 mengubahmuatan pembelajaran yang berkaitan dengan projek penguatan profil pelajar pancasila dangan:
(1) Muatan pembelajaran terkait pembelajaran kolaboratif lintas disiplin ilmu, gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan/atau cara lainnya berupa tema.
(2) Tema digunakan untuk merumuskan topik yang relevan dengan konteks sosial budaya dan karakteristik murid.
(3) Tema dikembangkan oleh sekolah.

 

6.    Pasal 19 tentang Beban Belajar
Permendikdasmen 13/2025 kembali menghilangkan narasi "projek penguatan profil pelajar pancasila". Beban belajar pada Kokurikuler dirumuskan dalam bentuk alokasi waktu 1 tahun ajaran.


7.    Pasal 22 tentang Penyelenggaraan Ekstrakurikuler
Permendikdasmen 12/2025 memungkinkan PAUD dan pendidikan kesetaraan bisa menyelenggarakan ekstrakurikuler. Sehingga, bukan hanya pendidikan dasar dan pendidikan menengah jalur formal saja yang bisa menyelenggarakannya.


Aturan tersebut juga menambahkan 1 ayat tambahan di Pasal 22. Pasal tambahan itu menyatakan bila ekstrakurikuler yang disediakan sekolah tersebut sekurang-kurangnya adalah kepramukaan atau kepanduan.


8.    Pasal 32 tentang Penerapan Kurikulum
Penerapan kurikulum lebih lanjut diatur dalam pasal 32 sesuai perubahan pada pasal 6 tentang struktur kurikulum.


9.    Penambahan Pasal 32A
Di antara Pasal 32 dan 33, Permendikdasmen 13/2025 menyisipkan 1 pasal tambahan, yang berbunyi:


Pasal 32A
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, mata pelajaran pilihan koding dan kecerdasan artifisial diselenggarakan oleh sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan jenjang pendidikan menengah mulai tahun ajaran 2025-2026 secara bertahap.


10. Penjelasan Lampiran
Ketentuan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I, Lampiran II, dan Lampiran III Permendikbudristek 12/2024 tentang Kurikulum diubah. Perubahan diterangkan lebih lengkap pada Lampiran I, Lampiran II, dan Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Permendikdasmen 13/2025.


Pasal II
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan, yakni 15 Juli 2025.

Dampaknya untuk Sekolah

1.    Sekolah Diperbolehkan Menggunakan Kurikulum 13 atau Kurikulum Merdeka
Melalui hadirnya Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, Kemendikdasmen menegaskan tidak adanya perubahan nama kurikulum. Dengan begitu, sekolah yang menggunakan Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka diperkenankan untuk melanjutkannya.

"Kurikulum tak ada yang baru atau penamaan baru. Kurikulum yang berlaku masih K13 dan Kurikulum Merdeka masih berlaku," kata Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran dari Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen, Dr Laksmi Dewi, MPd dikutip dari arsip detikEdu.

Laksmi menyebut daerah 3T (tertinggal, terluar, dan terdepan) masih diperbolehkan memakai Kurikulum 2013 hingga tahun ajaran 2026-2027. Sedangkan Kurikulum Merdeka saat ini sudah dipakai oleh 80-90% sekolah di Indonesia.

"Tidak ada kurikulum baru di tahun ini," tegas Laksmi lagi.

Permendikdasmen 13/2025 memang menambahkan deep learning dalam komponen kerangka dasar kurikulum. Kendati demikian, Laksmi menyebut deep learning bukan kurikulum melainkan sebuah metode pembaharuan proses pembelajaran.

"Banyak yang schooling without learning (ke sekolah tanpa benar-benar belajar). Deep learning ini pembelajaran mendalam yang contohnya kita ambil dari Australia, Kanada dan Swedia. Proses pembelajaran yang mengembangkan karakter, memuliakan, berkesadaran dan menggembirakan," jelasnya.

2.    Waktu Kokurikuler Dikurangi
Sebagai informasi, Kokurikuler adalah kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di luar jam pelajaran (intrakurikuler). Tujuannya untuk memperkuat hingga memperkaya materi pelajaran yang telah didapatkan murid di dalam kelas.

Permendikdasmen 13/2025 dinilai melakukan penyederhanaan pelaksanaan kokurikuler dan pengurangan alokasi waktu kokurikuler pada beberapa kelas. Lantaran disederhanakan, seharusnya sekolah bisa lebih mudah dalam menjalankannya.

Berbagai bentuk kokurikuler yang disarankan Kemendikdasmen adalah:

Pembelajaran lintas disiplin ilmu.
Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Pemberdayaan keterampilan bagi pendidikan non formal.

 

3.    Ekstrakurikuler Minimal Pramuka
Permendikdasmen 13/2025 memperluas ranah penyelenggaraan ekstrakurikuler. Bukan hanya lembaga pendidikan formal, lembaga pendidikan nonformal seperti PAUD dan pendidikan kesetaraan bisa menyelenggarakannya.

Bila sekolah ingin menyelenggarakan layanan ekstrakurikuler, seminimal mungkin adalah kepramukaan atau kepanduan lain.


4.    Mapel Koding dan AI Mulai Dilaksanakan
Hadirnya Permendikdasmen 13/2025 memastikan bila mata pelajaran koding dan kecerdasan artifisial/ artificial intelligence (AI) dilaksanakan. Kedua mata pelajaran ini bersifat pilihan dan diselenggarakan secara bertahap mulai tahun ajaran 2025-2026.

Untuk jenjang SD koding dan AI dilakukan secara bertahap mulai kelas 5, di SMP mulai kelas 7 dan di SMA mulai kelas 10.

Selengkapnya silakan download :

1.    Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 Tentang Kurikulum

2.    Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025 Tentang Beban Kerja Guru

3.    Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025 Tentang Standar Kelulusan (SKL)

4.    Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2025 Tentang Standar Isi

5.    Keputusan Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pembelajaran Nomor 046/H/KR/2025 Tentang Capaian Pembelajaran

6.    Sosialisasi Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025


Sumber : https://www.detik.com/edu/sekolah/d-8021932/permendikdasmen-13-tahun-2025-isi-lengkap-dan-dampaknya-untuk-sekolah#google_vignette

MODEL PEMBELAJARAN

Model Pembelajaran Inovatif Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi

VIDEO MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF 1 VIDEO MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF 2 MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBA...

Postingan Beranda