Sumber
Pengetahuan Dan Ilmu Pengetahuan Perspektif Al Quran Surat An Nahl Ayat 78 Dan
Al Isro’ Ayat 36
وَاللَّهُ
أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ
لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ
وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿النحل: ٧٨﴾
Dan Allah mengeluarkan kamu
dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi
kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (16:
78)
Penjelasan
·
Pelajaran
Mendalam Terkait Dengan Surat An-Nahl Ayat 78 (Tafsir Web)
· Tafsir
Quran NU
وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا ﴿الإسراء: ٣٦﴾
Dan janganlah
kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya
itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (17:
36)
Penjelasan
·
Hikmah
Mendalam Mengenai Surat Al-Isra Ayat 36 (Tafsir Web)
· Tafsir
Quran NU
Pengetahuan adalah keseluruhan
pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat
juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, tanpa
memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan
tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini
landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan
tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji
lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan
berdasarkan pengalaman belaka.
Sumber Pengetahuan
a. Aliran
Empirisme: David
Hume
Empirisme
adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam
memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme di ambil
dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai
suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme. Empirisme berpendapat
bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal,
melainkan di peroleh atau bersumber dari panca
indera manusia, yaitu mata,
lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah
sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.
Ajaran-ajaran
pokok empirisme, yaitu:
1. Pandangan bahwa semua
ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa
yang dialami.
2. Pengalaman inderawi
adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.
3. Semua yang kita ketahui
pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
4. Semua pengetahuan turun
secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi
(kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
5. Akal budi sendiri tidak
dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman
inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk
mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman;
6. Empirisme sebagai
filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber
pengetahuan.
Empirisme
menurut wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas adalah suatu aliran
dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman
indra manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah
pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Paham empirisme ini mempunyai
ciri-ciri pokok, di antara ciri-ciri pokok empirisme yaitu:
1. Teori tentang makna;
Teori pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal
pengetahuan yaitu asal usul ide atau konsep. Pada abad pertengahan, teori ini
diringkaskan dalam rumus Nihil
Est in Intellectu Quod Non Prius Feurit in Sensu (tidak ada sesuatu di
dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman). Pernyataan ini merupakan
tesis John Locke yang terdapat dalam bukunya "An
Essay Concerning Human Understanding' yang dikeluarkan tatkala ia menentang
ajaran ide bawaan (Innate
Idea) kepada orang-orang rasional. Jiwa (Mind) itu tatkala dilahirkan
keadaannya kosong laksana kertas putih yang belum ada tulisan di atasnya dan
setiap ide yang diperolehnya mestinya datang melalui pengalaman, yang dimaksud di
sini adalah pengalaman inderawi. Hume mempertegas teori ini dalam bab pembukaan
bukunya, Treatise
of Human Nature (1793),
dengan cara membedakan antara 'ide' dan 'kesan'. Semua ide yang kita miliki itu
datang dengan kesan-kesan, dan kesan itu mencakup pergınderaan, passion dan
emosi.
2. Teori pengetahuan;
Menurut rasionalis ada beberapa kebenaran umum seperti setiap kejadian tertentu
mempunyai sebab, dasar-dasar matematika dan beberapa prinsip dasar etika dan
kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah kebenaran
a priori yang diperoleh keluar intuisi rasional. Empirisme menolak hal
demikian karena tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran yang
disebut tadi adalah kebenaran-kebenaran yang diperoleh lewat observasi, jadi ia
kebenaran
a posteriori.
Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776),
yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat
yang bersifat lahiriah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut
pribadi manusia). Oleh karena itu
pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Dua hal dicermati oleh David Hume, yaitu 'substansi' dan "kausalitas'.
Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja
tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan.
Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan
kesan-kesan seperti itu. Misal kita alami kesan: putih, licin, ringan, tipis.
Atas dasar pengalaman itu tidak dapat disimpulkan, bahwa ada substansi tetap
yang misalnya disebut kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi. Bahwa di dunia ada
realitas kertas, diterima oleh Hume. Namun dari kesan itu mengapa muncul
gagasan kertas, dan bukan yang lainnya? Bagi Hume, "aku" tidak lain
hanyalah "a
bundle or collection of perceptions (= kesadaran tertentu)".
Jika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya, misal batu yang
disinari matahari menjadi panas, kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman.
Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi tidak memperlihatkan kepada
kita urutan sebab-akibat. Yang disebut kepastian hanya mengungkapkan harapan
kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari "probable"
(berpeluang). Maka Hume menolak kausalitas, sebab harapan bahwa sesuatu
mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri, namun hanya dalam
gagasan kita. Hukum alam adalah hukum alam. Jika kita bicara tentang
"hukum alam" atau "sebab-akibat", sebenarnya kita
membicarakan apa yang kita harapkan, yang merupakan gagasan kita saja, yang
lebih didikte oleh kebiasaan atau perasaan kita saja.
David Hume merupakan
pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia
berasal dari indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang
bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita. Dengan kritisisme
Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua
pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing
pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Benarlah bahwa pengetahuan kita
tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor
yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Ada
kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia
tentang dunia. Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti
seperti apa dunia "itu sendiri" ("das
Ding an sich"), namun hanya dunia itu seperti tampak
"bagiku", atau "bagi semua orang". Namun, menurut Kant, ada
dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Yang
pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita
ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita. Ruang dan waktu adalah
cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang
kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang
tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Ini bentuk pengetahuan.
Demikian Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat, membuat suatu
sintesis, dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini.
b.
Aliran Rasionalisme: Rene
Descartes
Rasionalisme
adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat
terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalisme suatu pengetahuan diperoleh haruslah dengan cara
berpikir. Pengertian lain rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin
filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran ditentukan melalui pembuktian, logika,
dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran
agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme" dan atheisme,
dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus
sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul.
Meskipun begitu, ada perbedaan dengan kedua bentuk tersebut:
Humanisme dipusatkan pada masyarakat manusia dan keberhasilannya. Rasionalisme
tidak mengklaim bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah
lainnya. Ada rasionalis-rasionalis yang dengan tegas menentang filosofi
humanisme yang antroposentrik. Ateisme adalah suatu keadaan tanpa kepercayaan
akan adanya Tuhan atau dewa-dewa; rasionalisme tidak menyatakan pernyataan
apapun mengenai adanya dewa-dewi meski ia menolak kepercayaan apa pun yang
hanya berdasarkan iman. Meski ada pengaruh ateisme yang kuat dalam rasionalisme
modern, tidak seluruh rasionalis adalah ateis.
Di luar konteks religius, rasionalisme dapat diterapkan secara
lebih umum, umpama-nya kepada masalah-masalah politik atau sosial. Dalam
kasus-kasus seperti ini, yang menjadi ciri-ciri penting dari perpektif para
rasionalis adalah penolakan terhadap perasaan (emosi), adat-istiadat atau
kepercayaan yang sedang populer. Pada pertengahan abad ke-20, ada tradisi kuat
rasionalisme yang terencana, yang dipengaruhi secara besar oleh para pemikir
bebas dan kaum intelektual. Rasionalisme modern hanya mempunyai sedikit
kesamaan dengan rasionalisme kontinental yang diterangkan René Descartes¹. Perbedaan paling jelas
terlihat pada ketergantungan rasionalisme modern terhadap sains yang
mengandalkan percobaan dan pengamatan, suatu hal yang ditentang rasionalisme
kontinental sama sekali. Latar belakang munculnya rasionalisme adalah keinginan
untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (scholastic), yang
pernah diterima, tetapi ternyata tidak mampu mengenai hasil-hasil ilmu
pengetahuan yang dihadapi.
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M). Dalam buku Discourse
de la Methode tahun 1637, ia menegaskan perlu adanya metode yang jitu
sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan
segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian
kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan
bagi seluruh pengetahuan.
Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada
satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu "saya ragu-ragu". Ini
bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa "aku ragu-ragu". Jika aku
menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain,
kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah "cogito ergo
sum", aku berpikir (= menyadari) maka aku ada. Itulah
kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab
aku mengerti itu dengan "jelas, dan terpilah-pilah" "clearly
and distinctly", "clara
et distincta". Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang
harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan
kebenaran.
Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yang sudah
ada sejak kita lahir, yaitu realitas pikiran (res
cogitan), realitas perluasan (res
extensa, "extention") atau materi, dan Tuhan (sebagai Wujud yang
seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu). Pikiran
sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi
menjadi bagian yang lebih kecil. Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan
dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran. Kedua substansi berasal dari
Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada apa pun juga.
Descartes adalah seorang dualis, menerapkan pembagian tegas antara realitas
pikiran dan realitas yang meluas. Manusia memiliki keduanya, sedang binatang
hanya memiliki realitas keluasan: manusia memiliki badan sebagaimana binatang,
dan memiliki pikiran sebagai-mana malaikat. Binatang adalah mesin otomat,
bekerja mekanistik, sedang manusia adalah mesin otomat yang sempurna, karena
dari pikirannya ia memiliki kecerdasan. (Mesin otomat zaman sekarang adalah
komputer yang tampak seperti memiliki kecerdasan buatan). Descartes adalah
pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua
pengetahuan ada dalam pikiran.
Descartes menganggap bahwa pengetahuan memang dihasilkan oleh
indera, tetapi karena dia mengakui bahwa indera itu bisa menyesatkan (seperti
dalam mimpi atau khayalan), maka dia terpaksa mengambil kesimpulan bahwa data
inderawi tidak dapat diandalkan. Dia kemudian menguji kepercayaannya kepada
Tuhan, tetapi di sini pun dia menemukan bahwa dia dapat membayangkan Tuhan yang
mungkin bisa menipu manusia. Dalam kesungguhannya mencari dasar yang mempunyai
kepastian mutlak ini, Descartes meragukan adanya surga dan dunia, pikiran dan
badan. Satu-satunya hal yang tak dapat dia ragukan adalah eksistensi dirinya
sendiri karena dia tidak dapat meragukan lagi bahwa dia sedang ragu-ragu.
Bahkan, jika kemudian dia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada, dia berdalih
bahwa penyesatan itu pun merupakan bukti bahwa ada seseorang yang sedang
disesatkan. Batu karang kepastian Descartes ini diekspresikan dalam
bahasa Latin "Cogito
ergo sum" (saya berpikir, karena itu saya ada).
Mengapa kebenaran ini (saya ada) bersifat pasti sama sekali?
Menurut Descartes, hal ini dikarenakan saya mengerti itu dengan jelas dan
terpilah-pilah (clearly and distinctly). Jadi, hanya hal-hal yang saya mengerti
dengan jelas dan terpilah-pilah itulah harus diterima sebagai benar. Dengan
demikian, Descartes berkeyakinan bahwa ia telah menemukan norma untuk
menentukan kebenaran. Menurut Descartes, apa yang jelas dan terpilah-pilah itu
tak mungkin didapatkan dari apa yang berada di luar diri kita. Descartes
menjelaskan, bahwa suatu benda atau peristiwa yang tampak dan dapat kita amati
bukanlah benda atau peristiwa itu sendiri. Adanya benda atau peristiwa kita
ketahui dengan rasio atau akal kita. Suatu benda atau peristiwa pada dirinya
(das ding an sich) tidak dapat diamati. Yang kita amati itu bukanlah benda
(noumena) melainkan penampakannya (fenomena) saja.
Pengetahuan kita tentang
benda atau peristiwa itu sendiri bukan karena wahyu, bukan karena pengamatan,
sentuhan, atau khayalan, melainkan karena pemeriksaan oleh rasio. Apa yang kita
duga kita lihat dengan mata itu hanya dapat kita ketahui dengan kuasa penilaian
kita yang terdapat di dalam rasio. Pengetahuan melalui indera adalah kabur.
Dalam hal ini kita sama dengan binatang. Justru karena kesaksian apa pun dari
luar tidak dapat dipercayai, menurut Descartes, seseorang mesti mencari
kebenaran-kebenaran dalam dirinya, sambil menggunakan norma "jelas dan
terpilah-pilah". Jadi, bagi Descartes satu-satunya sumber pengetahuan yang
sah adalah rasio. Keraguan awal-total merupakan metode yang membuat pengetahuan
menjadi jelas dan terpilah-pilah.
Pandangan humanistik atau aliran Humanisme,
intinya menolak pandangan Freud
yang menyatakan manusia pada dasarnya tidak rasional, tidak tersosialisasikan,
dan tidak memiliki control terhadap nasib dirinya sendiri. Sebaliknya Rogers, yang
menokohi pandangan humanistik, berpendapat bahwa manusia itu memiliki dorongan
untuk mengarakhan dirinya ketujuan yang positif: manusia itu rasional:
tersosialisasikan dan untuk berbagai hal yang dapat menentukan nasibnya
sendiri. Bila individu berada dalam suasana (kondisi) yang berkembang, maka
individu itu akan mengarahkan dirinya untukmenjadi lebih maju dan positif.
Dengan demikian individu akan tercebas dari kecemasaan dan menjadi anggota
masyarakat yang dapat bertingkah laku secara memuaskan. Selanjutnya Rogers
(1961) mengemukakan gambaran pribadi manusia sebagai aliran atau arus yang
terus menerus mengalir tanpa henti, sebagai sesuatu yang tidak pernah selesai.
Hal ini berarti bahwa pribadi individu merupakan proses menjadi (on becoming)
yang tidak pernah selesai dan tidak pernah sempurna. Dari persfektif tersebut,
"Humanisme" dipandang sebagai sebuah gagasan positif oleh kebanyakan
orang. Humanisme mengingatkan kita akan gagasan-gagasan seperti kecintaan akan
peri kemanusiaan, perdamaian, dan persaudaraan. Tetapi, makna filosofis dari
humanisme jauh lebih signifikan: humanisme adalah cara berpikir bahwa
mengemukakan konsep peri kemanusiaan sebagai fokus dan satu-satunya tujuan.
Dengan kata lain, humanisme mengajak manusia berpaling dari Tuhan yang menciptakan
mereka, dan hanya mementingkan keberadaan dan identitas mereka sendiri. Kamus
umum mendefinisikan humanisme sebagai sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan
pada berbagai nilai, karakteristik, dan tindak tanduk yang dipercaya terbaik
bagi manusia, bukannya pada otoritas supernatural mana pun".