SDN TARO'AN

Alamat : Desa Taro'an Kecamatan Tlanakan Kabupaten Pamekasan -Email : sdntaroan@gmail.com, NPSN : 20527086, Kode Pos : 69371

Kamis, 22 Januari 2026

Sumber Pengetahuan Dan Ilmu Pengetahuan Perspektif Al Quran Surat An Nahl Ayat 78 Dan Al Isro’ Ayat 36

 


Sumber Pengetahuan Dan Ilmu Pengetahuan Perspektif Al Quran Surat An Nahl Ayat 78 Dan Al Isro’ Ayat 36

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿النحل: ٧٨﴾

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (16: 78)

Penjelasan

·       Pelajaran Mendalam Terkait Dengan Surat An-Nahl Ayat 78 (Tafsir Web)

·       Tafsir Quran NU

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا ﴿الإسراء: ٣٦﴾

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (17: 36)

Penjelasan

·       Hikmah Mendalam Mengenai Surat Al-Isra Ayat 36 (Tafsir Web)

·       Tafsir Quran NU

Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka.

Sumber Pengetahuan[1]

a.    Aliran Empirisme: David Hume

Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme di ambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme[2]. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.

Ajaran-ajaran pokok empirisme, yaitu:

1.    Pandangan bahwa semua ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami.

2.    Pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.

3.    Semua yang kita ketahui pada akhirnya bergantung pada data inderawi.

4.    Semua pengetahuan turun secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi (kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).

5.    Akal budi sendiri tidak dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman;

6.    Empirisme sebagai filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.

Empirisme menurut wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman indra manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Paham empirisme ini mempunyai ciri-ciri pokok, di antara ciri-ciri pokok empirisme yaitu:

1.    Teori tentang makna; Teori pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan yaitu asal usul ide atau konsep. Pada abad pertengahan, teori ini diringkaskan dalam rumus Nihil Est in Intellectu Quod Non Prius Feurit in Sensu (tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman). Pernyataan ini merupakan tesis John Locke yang terdapat dalam bukunya "An Essay Concerning Human Understanding' yang dikeluarkan tatkala ia menentang ajaran ide bawaan (Innate Idea) kepada orang-orang rasional. Jiwa (Mind) itu tatkala dilahirkan keadaannya kosong laksana kertas putih yang belum ada tulisan di atasnya dan setiap ide yang diperolehnya mestinya datang melalui pengalaman, yang dimaksud di sini adalah pengalaman inderawi. Hume mempertegas teori ini dalam bab pembukaan bukunya, Treatise of Human Nature (1793), dengan cara membedakan antara 'ide' dan 'kesan'. Semua ide yang kita miliki itu datang dengan kesan-kesan, dan kesan itu mencakup pergınderaan, passion dan emosi.

2.    Teori pengetahuan; Menurut rasionalis ada beberapa kebenaran umum seperti setiap kejadian tertentu mempunyai sebab, dasar-dasar matematika dan beberapa prinsip dasar etika dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah kebenaran a priori yang diperoleh keluar intuisi rasional. Empirisme menolak hal demikian karena tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran yang disebut tadi adalah kebenaran-kebenaran yang diperoleh lewat observasi, jadi ia kebenaran a posteriori.

Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat yang bersifat lahiriah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna. Dua hal dicermati oleh David Hume, yaitu 'substansi' dan "kausalitas'. Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu. Misal kita alami kesan: putih, licin, ringan, tipis. Atas dasar pengalaman itu tidak dapat disimpulkan, bahwa ada substansi tetap yang misalnya disebut kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi. Bahwa di dunia ada realitas kertas, diterima oleh Hume. Namun dari kesan itu mengapa muncul gagasan kertas, dan bukan yang lainnya? Bagi Hume, "aku" tidak lain hanyalah "a bundle or collection of perceptions (= kesadaran tertentu)".

Jika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya, misal batu yang disinari matahari menjadi panas, kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman. Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi tidak memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat. Yang disebut kepastian hanya mengungkapkan harapan kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari "probable" (berpeluang). Maka Hume menolak kausalitas, sebab harapan bahwa sesuatu mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri, namun hanya dalam gagasan kita. Hukum alam adalah hukum alam. Jika kita bicara tentang "hukum alam" atau "sebab-akibat", sebenarnya kita membicarakan apa yang kita harapkan, yang merupakan gagasan kita saja, yang lebih didikte oleh kebiasaan atau perasaan kita saja.

David Hume merupakan pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia berasal dari indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita. Dengan kritisisme Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia. Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia "itu sendiri" ("das Ding an sich"), namun hanya dunia itu seperti tampak "bagiku", atau "bagi semua orang". Namun, menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Yang pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita. Ruang dan waktu adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Ini bentuk pengetahuan. Demikian Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat, membuat suatu sintesis, dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini.

 

b.    Aliran Rasionalisme: Rene Descartes

Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalisme suatu pengetahuan diperoleh haruslah dengan cara berpikir. Pengertian lain rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme[3]" dan atheisme, dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul.

Meskipun begitu, ada perbedaan dengan kedua bentuk tersebut: Humanisme dipusatkan pada masyarakat manusia dan keberhasilannya. Rasionalisme tidak mengklaim bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah lainnya. Ada rasionalis-rasionalis yang dengan tegas menentang filosofi humanisme yang antroposentrik. Ateisme adalah suatu keadaan tanpa kepercayaan akan adanya Tuhan atau dewa-dewa; rasionalisme tidak menyatakan pernyataan apapun mengenai adanya dewa-dewi meski ia menolak kepercayaan apa pun yang hanya berdasarkan iman. Meski ada pengaruh ateisme yang kuat dalam rasionalisme modern, tidak seluruh rasionalis adalah ateis.

Di luar konteks religius, rasionalisme dapat diterapkan secara lebih umum, umpama-nya kepada masalah-masalah politik atau sosial. Dalam kasus-kasus seperti ini, yang menjadi ciri-ciri penting dari perpektif para rasionalis adalah penolakan terhadap perasaan (emosi), adat-istiadat atau kepercayaan yang sedang populer. Pada pertengahan abad ke-20, ada tradisi kuat rasionalisme yang terencana, yang dipengaruhi secara besar oleh para pemikir bebas dan kaum intelektual. Rasionalisme modern hanya mempunyai sedikit kesamaan dengan rasionalisme kontinental yang diterangkan René Descartes¹[4]. Perbedaan paling jelas terlihat pada ketergantungan rasionalisme modern terhadap sains yang mengandalkan percobaan dan pengamatan, suatu hal yang ditentang rasionalisme kontinental sama sekali. Latar belakang munculnya rasionalisme adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (scholastic), yang pernah diterima, tetapi ternyata tidak mampu mengenai hasil-hasil ilmu pengetahuan yang dihadapi.

Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M)[5]. Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637, ia menegaskan perlu adanya metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.

Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu "saya ragu-ragu". Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa "aku ragu-ragu". Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain, kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah "cogito ergo sum", aku berpikir (= menyadari)[6] maka aku ada. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab aku mengerti itu dengan "jelas, dan terpilah-pilah" "clearly and distinctly", "clara et distincta". Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran[7].

Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yang sudah ada sejak kita lahir, yaitu realitas pikiran (res cogitan), realitas perluasan (res extensa, "extention") atau materi, dan Tuhan (sebagai Wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu). Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil. Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran. Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada apa pun juga. Descartes adalah seorang dualis, menerapkan pembagian tegas antara realitas pikiran dan realitas yang meluas. Manusia memiliki keduanya, sedang binatang hanya memiliki realitas keluasan: manusia memiliki badan sebagaimana binatang, dan memiliki pikiran sebagai-mana malaikat. Binatang adalah mesin otomat, bekerja mekanistik, sedang manusia adalah mesin otomat yang sempurna, karena dari pikirannya ia memiliki kecerdasan. (Mesin otomat zaman sekarang adalah komputer yang tampak seperti memiliki kecerdasan buatan). Descartes adalah pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua pengetahuan ada dalam pikiran.

Descartes menganggap bahwa pengetahuan memang dihasilkan oleh indera, tetapi karena dia mengakui bahwa indera itu bisa menyesatkan (seperti dalam mimpi atau khayalan), maka dia terpaksa mengambil kesimpulan bahwa data inderawi tidak dapat diandalkan. Dia kemudian menguji kepercayaannya kepada Tuhan, tetapi di sini pun dia menemukan bahwa dia dapat membayangkan Tuhan yang mungkin bisa menipu manusia. Dalam kesungguhannya mencari dasar yang mempunyai kepastian mutlak ini, Descartes meragukan adanya surga dan dunia, pikiran dan badan. Satu-satunya hal yang tak dapat dia ragukan adalah eksistensi dirinya sendiri karena dia tidak dapat meragukan lagi bahwa dia sedang ragu-ragu. Bahkan, jika kemudian dia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada, dia berdalih bahwa penyesatan itu pun merupakan bukti bahwa ada seseorang yang sedang disesatkan. Batu karang kepastian Descartes ini diekspresikan dalam bahasa Latin "Cogito ergo sum" (saya berpikir, karena itu saya ada).

Mengapa kebenaran ini (saya ada) bersifat pasti sama sekali? Menurut Descartes, hal ini dikarenakan saya mengerti itu dengan jelas dan terpilah-pilah (clearly and distinctly). Jadi, hanya hal-hal yang saya mengerti dengan jelas dan terpilah-pilah itulah harus diterima sebagai benar. Dengan demikian, Descartes berkeyakinan bahwa ia telah menemukan norma untuk menentukan kebenaran. Menurut Descartes, apa yang jelas dan terpilah-pilah itu tak mungkin didapatkan dari apa yang berada di luar diri kita. Descartes menjelaskan, bahwa suatu benda atau peristiwa yang tampak dan dapat kita amati bukanlah benda atau peristiwa itu sendiri. Adanya benda atau peristiwa kita ketahui dengan rasio atau akal kita. Suatu benda atau peristiwa pada dirinya (das ding an sich) tidak dapat diamati. Yang kita amati itu bukanlah benda (noumena) melainkan penampakannya (fenomena) saja.

Pengetahuan kita tentang benda atau peristiwa itu sendiri bukan karena wahyu, bukan karena pengamatan, sentuhan, atau khayalan, melainkan karena pemeriksaan oleh rasio. Apa yang kita duga kita lihat dengan mata itu hanya dapat kita ketahui dengan kuasa penilaian kita yang terdapat di dalam rasio. Pengetahuan melalui indera adalah kabur. Dalam hal ini kita sama dengan binatang. Justru karena kesaksian apa pun dari luar tidak dapat dipercayai, menurut Descartes, seseorang mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam dirinya, sambil menggunakan norma "jelas dan terpilah-pilah". Jadi, bagi Descartes satu-satunya sumber pengetahuan yang sah adalah rasio. Keraguan awal-total merupakan metode yang membuat pengetahuan menjadi jelas dan terpilah-pilah.



[1] Tulisan tentang “Sumber Pengetahuan” ini dikutip dari buku “SOSIOLOGI Untuk Universitas”, yang ditulis oleh Yasmil Anwar dan Adang.

[2] Empirisme adalah sebuah orientasi filsafat yang berhubungan dengan kemunculan ilmu pengetahuan modern dan metode ilmiah. Empirisme menekankan bahwa ilmu pengetahuan manusia bersifat terbatas pada apa yang dapat diamati dan diuji. Oleh karena itu, aliran empirisme memiliki sifat kritis terhadap abstraksi dan spekulasi dalam membangun dan memperoleh ilmu. Strategi utama pemerolehan ilmu, dengan demikian, dilakukan dengan penerapan metode ilmiah. Para ilmuwan berkebangsaan Inggris seperti John Locke, George Berkeley dan David Hume adalah pendiri utama tradisi empirisme (Calhoun, 2002). Sumbangan utama dari aliran empirisme adalah lahirnya ilmu pengetahuan modern dan penerapan metode ilmiah untuk membangun pengetahuan. Selain itu, tradisi empirisme adalah fundamen yang mengawali mata rantai evolusi ilmu pengetahuan sosial, terutama dalam konteks perdebatan apakah ilmu pengtahuan sosial itu berbeda dengan ilmu alam. Sejak saat itu, empirisme menempati tempat yang terhormat dalam metodologi ilmu pengetahuan sosial. Acapkali empirisme diparalelkan dengan tradisi positivism. Namun demikian keduanya mewakili pemikiran filsafat ilmu yang berbeda.

[3] Pandangan humanistik atau aliran Humanisme, intinya menolak pandangan Freud yang menyatakan manusia pada dasarnya tidak rasional, tidak tersosialisasikan, dan tidak memiliki control terhadap nasib dirinya sendiri. Sebaliknya Rogers, yang menokohi pandangan humanistik, berpendapat bahwa manusia itu memiliki dorongan untuk mengarakhan dirinya ketujuan yang positif: manusia itu rasional: tersosialisasikan dan untuk berbagai hal yang dapat menentukan nasibnya sendiri. Bila individu berada dalam suasana (kondisi) yang berkembang, maka individu itu akan mengarahkan dirinya untukmenjadi lebih maju dan positif. Dengan demikian individu akan tercebas dari kecemasaan dan menjadi anggota masyarakat yang dapat bertingkah laku secara memuaskan. Selanjutnya Rogers (1961) mengemukakan gambaran pribadi manusia sebagai aliran atau arus yang terus menerus mengalir tanpa henti, sebagai sesuatu yang tidak pernah selesai. Hal ini berarti bahwa pribadi individu merupakan proses menjadi (on becoming) yang tidak pernah selesai dan tidak pernah sempurna. Dari persfektif tersebut, "Humanisme" dipandang sebagai sebuah gagasan positif oleh kebanyakan orang. Humanisme mengingatkan kita akan gagasan-gagasan seperti kecintaan akan peri kemanusiaan, perdamaian, dan persaudaraan. Tetapi, makna filosofis dari humanisme jauh lebih signifikan: humanisme adalah cara berpikir bahwa mengemukakan konsep peri kemanusiaan sebagai fokus dan satu-satunya tujuan. Dengan kata lain, humanisme mengajak manusia berpaling dari Tuhan yang menciptakan mereka, dan hanya mementingkan keberadaan dan identitas mereka sendiri. Kamus umum mendefinisikan humanisme sebagai sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan pada berbagai nilai, karakteristik, dan tindak tanduk yang dipercaya terbaik bagi manusia, bukannya pada otoritas supernatural mana pun".

[4] Descartes (1596-1650) biasanya dipandang sebagai bapak filsafat modern. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Bertrand Russel dalam History of Western Philosophy. Descartes merupakan orang pertama yang memiliki kapasitas filosofis yang sangat dipengaruhi oleh fisika baru dan astronomi, la banyak menguasai filsafat Scholastic, namun ia tidak menerima dasar-dasar filfasat Scholastic yang dibangun oleh para pendahulunya, la berupaya keras untuk mengkonstruksi bangunan baru filsafat. Hal ini merupakan terobosan baru semenjak zaman Aristoteles dan hal ini merupakan sebuah neo-self-confidence yang dihasilkan dari kemajuan ilmu pengetahuan. (B. Russel, History of Westem Philosophy, 542) Ada sesuatu yang baru dalam filsafat Descartes yang tidak dijumpai dalam filosof-filosof besar semenjak Plato. Seluruh filosof abad pertengahan merupakan pengajar, sementara Descartes adalah penulis, bukan sebagai pengajar, la adalah penjelajah dan perandi Pran orang yang cemas terhadap komunitas yang didapatinya. Rene Descartes (1598-1650) dilahirkan di Prancis. la belajar filsafat pada kolose yang dipimpin pater-pater Yesuit di desa La Fleche. Descartes terkenal sebagai seorang matematikawan dan dinobatkan sebagai "Bapak Pendiri Filsafat Barat-Modern". Salah satu karya besar Descartes adalah Discourse on Method (1637) yang ditulis dalam bahasa Prancis dengan gaya penulisan yang menarik perhatian di zamannya. Dalam buku tersebut Descartes menyatakan tidak puas dengan tradisi filsafat dan ilmu pengetahuan, kemudian ia menjelaskan tujuan hidupnya untuk membimbing akal manusia ke arah penemuan kebenaran yang sistematis dan penghapusan kesalahan. Setelah karya Discourse on Method, menyusulah karya selanjutnya yang menjadi karya utama Descartes, yaitu Meditations of First Philosophy yang diterbitkan dalam bahasa Latin pada tahun 1644. Selanjutnya, segera menyusul seri keberatan-keberatan para penulis disertai jawaban Descartes sendiri pada mereka. Karya filsafat lainnya ialah The Principles of Philosophy yang terbit tahun 1644, dan Passion of the Soul tahun 1649. The Principles of Philosophy merupakan usaha ambisius Descartes untuk menyusun secara sistematis metode filsafatnya dan dari situ ia menarik suatu dasar bagi pertanggungjawaban dunia fisik. Adapun Passion of the Soul merupakan pengukuhan dari filsafat penalaran..

[5] Descartes di samping tokoh rasionalisme juga dianggap sebagai bapak filsafat (moderen), terutama karena dia dalam filsafat-filsafat sungguh-sungguh diusahakan adanya metode serta penyelidikan yang mendalam. Ada dua alasan mengapa Descartes dinobatkan sebagai "Bapak Filsafat Barat-Modern". Pertama, karena ia berusaha keras untuk mencari satu-satunya metode dalam seluruh cabang penyelidikan manusia. Kedua, karena ia memperkenalkan dalam dunia filsafat suatu konsep dan argumen yang ia gunakan sebagai pendobrak pemikiran Abad Pertengahan dan sebagai prinsip dasar filsafatnya. Lihat Roger Scruton, Sejarah Singkat Filsafat Modern: Dari Descartes Sampai Wittgenstein, alih bahasa: Zainal Arifin Tandjung, PT. Pantja Simpati: Jakarta, 1986, hal. 31. Disebutkan dalam sebuah sejarah yang mengisahkan dirinya, ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hukum, dan ilmu kedokteran. la yang mendirikan aliran Rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercayai adalah akal. la tidak puas dengan filsafat scholastik karena dilihatnya sebagai saling bertentangan dan tidak ada kepastian. Adapun sebabnya karena tidak ada metode berpikir yang pasti. Descartes merasa benar-benar ketegangan dan ketidakpastian merajalera ketika itu dalam kalangan filsafat. Scholastic tak dapat memberi keterangan yang memuaskan kepada ilmu dan filsafat baru yang dimajukan ketika itu kerapkali bertentangan satu sama lain. Descartes mengemukakan metode baru yaitu metode keragu-raguan. Seakan-akan ia membuang segala kepastian, karena ragu-ragu itu suatu cara berpikir. la ragu-ragu bukan untuk ragu-ragu, melainkan untuk mencapai kepastian. Adapun sumber kebenaran adalah rasio. Hanya rasio sejarah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Rasio pulalah yang dapat memberi pemimpin dalam segala jalan pikiran. Adapun yang benar itu hanya tindakan budi yang terang benderang, yang disebutnya ideas claires et distinctes. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, maka aliran ini disebut Rasionalisme.

[6] Yang dimaksudkan Descartes dengan istilah "berpikir" adalah "menyadari". Pikiran memang merupakan salah satu bentuk kesadaran, dan dalam arti itu kesangsian metodis (skeptisisme) tadi disebutnya "saya berpikir", dan karena saya berpikir, jelaslah saya ada. Itulah kebenaran yang bagaimanapun tak dapat disangkal. Perlu ditegaskan disini bahwa makna keraguan metodis (skeptisime) Descartes adalah mengarah pada satu langkah awal/titk tolak yang netral (mengesampingkan semua aspek praduga baik itu budaya maupun agama) dalam mendapatkan pengetahuan. Dan bukan "skeptisime" yang dikemukakan oleh David Hume, yakni skeptisime bukan langkah awal tapi menjadi langkah ahir/kesimpulan, bahwa kita tidak mungkin mengetahui apapun. K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, Kanisius: Yogyakarta, 1999, hlm. 46.

[7] Pernyataan atau tesis "cogito ergo sum", menjadi sangat masyhur dalam sejarah pemikiran Barat-Modern, karena memiliki pengaruh yang dominan bagi pembentukan dan corak "ke-modern-an" masyarakat Barat. Dengan demikian, pemahaman terhadap Descartes menjadi penting karena tidak hanya sebagai kunci untuk memahami karakteristik masyarakat Barat dewasa ini, tetapi juga sebagai kunci untuk melacak jejak transformasi nilai-nilai dan karakteristik (kemodernan) masyarakat Barat-Modern terhadap masyarakat lainnya di bebagai penjuru dunia. Dalam rangka penulisan miniskripsi ini, tesis Rene Descartes Cogito Ergo Sum (aku berpikir, maka aku ada) menjadi inti bahasannya. Cogito Ergo Sum tersebut memiliki konsekuensi lahirnya Rasionalisme. Paham ini dengan jelas sangat mengunggulkan dan mementingkan rasio daripada realitas yang dipikirkannya. Akhirnya, rasiolah yang menjadi indikasi keberadaan (eksistensi) si subjek (aku) yang mengetahui sesuatu. Bagi Descartes, rasio adalah instansi tertinggi untuk mengetahuai sesuatu. Pengetahuan merupakan jalan, bukti keberadaan (eksistensi) manusia, dan bahkan menjadi ukuran ke bernilai-an manusia. Berdasarkan konsep tersebut, ukuran atau norma suatu kebenaran adalah suatu pemikiran yang jelas, definitif, analitik, dan "terpilah-pilah". Di luar kriteria tersebut harus ditolak atau diragukan sebagai ilmu pengetahuan yang absah (benar). Oleh karena itu, bagaimana persisnya proses keraguan (skeptis) dan apa buktinya keraguan (skeptis) merupakan titik tolak yang netral menuju keyakinan dan pengetahuan yang benar? Selanjutnya dapat di telaah dalam Louis O. Kattsoff, PengantarFilsafat, alih bahasa; Soejono Soemargono, Tiara Wacana: Yogyakarta, 2004), hal: 135 serta, dalam: Abdul Munir Mulkhan, Mencari Tuhan dab Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai Pemikiran ImamAl-Ghazali, Bumi Aksara: Jakarta, 199, hal: 43

Tidak ada komentar:

MODEL PEMBELAJARAN

Model Pembelajaran Inovatif Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi

VIDEO MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF 1 VIDEO MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF 2 MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBA...

Postingan Beranda