Sumber
Pengetahuan Dan Ilmu Pengetahuan Perspektif Al Quran Surat An Nahl Ayat 78 Dan
Al Isro’ Ayat 36
وَاللَّهُ
أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ
لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ
وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ﴿النحل: ٧٨﴾
Dan Allah mengeluarkan kamu
dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi
kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Penjelasan
·
Pelajaran
Mendalam Terkait Dengan Surat An-Nahl Ayat 78 (Tafsir Web)
وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا ﴿الإسراء: ٣٦﴾
Dan janganlah
kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.
Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya
itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Penjelasan
·
Hikmah
Mendalam Mengenai Surat Al-Isra Ayat 36 (Tafsir Web)
Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka.
Sumber Pengetahuan[1]
a. Aliran
Empirisme: David
Hume
Empirisme adalah suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme di ambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai suatu doktrin empirisme adalah lawan dari rasionalisme[2]. Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan tentang kebenaran yang sempurna tidak diperoleh melalui akal, melainkan di peroleh atau bersumber dari panca indera manusia, yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.
Ajaran-ajaran
pokok empirisme, yaitu:
1. Pandangan bahwa semua
ide atau gagasan merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa
yang dialami.
2. Pengalaman inderawi
adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal atau rasio.
3. Semua yang kita ketahui
pada akhirnya bergantung pada data inderawi.
4. Semua pengetahuan turun
secara langsung, atau di simpulkan secara tidak langsung dari data inderawi
(kecuali beberapa kebenaran definisional logika dan matematika).
5. Akal budi sendiri tidak
dapat memberikan kita pengetahuan tentang realitas tanpa acuan pada pengalaman
inderawi dan penggunaan panca indera kita. Akal budi mendapat tugas untuk
mengolah bahan bahan yang di peroleh dari pengalaman;
6. Empirisme sebagai
filsafat pengalaman, mengakui bahwa pengalaman sebagai satu-satunya sumber
pengetahuan.
Empirisme
menurut wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas adalah suatu aliran
dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman
indra manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah
pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Paham empirisme ini mempunyai
ciri-ciri pokok, di antara ciri-ciri pokok empirisme yaitu:
1. Teori tentang makna;
Teori pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal
pengetahuan yaitu asal usul ide atau konsep. Pada abad pertengahan, teori ini
diringkaskan dalam rumus Nihil
Est in Intellectu Quod Non Prius Feurit in Sensu (tidak ada sesuatu di
dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman). Pernyataan ini merupakan
tesis John Locke yang terdapat dalam bukunya "An
Essay Concerning Human Understanding' yang dikeluarkan tatkala ia menentang
ajaran ide bawaan (Innate
Idea) kepada orang-orang rasional. Jiwa (Mind) itu tatkala dilahirkan
keadaannya kosong laksana kertas putih yang belum ada tulisan di atasnya dan
setiap ide yang diperolehnya mestinya datang melalui pengalaman, yang dimaksud di
sini adalah pengalaman inderawi. Hume mempertegas teori ini dalam bab pembukaan
bukunya, Treatise
of Human Nature (1793),
dengan cara membedakan antara 'ide' dan 'kesan'. Semua ide yang kita miliki itu
datang dengan kesan-kesan, dan kesan itu mencakup pergınderaan, passion dan
emosi.
2. Teori pengetahuan;
Menurut rasionalis ada beberapa kebenaran umum seperti setiap kejadian tertentu
mempunyai sebab, dasar-dasar matematika dan beberapa prinsip dasar etika dan
kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah kebenaran
a priori yang diperoleh keluar intuisi rasional. Empirisme menolak hal
demikian karena tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran yang
disebut tadi adalah kebenaran-kebenaran yang diperoleh lewat observasi, jadi ia
kebenaran
a posteriori.
Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776),
yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Pengalaman itu dapat
yang bersifat lahiriah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut
pribadi manusia). Oleh karena itu
pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.
Dua hal dicermati oleh David Hume, yaitu 'substansi' dan "kausalitas'.
Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja
tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama. Dari kesan muncul gagasan.
Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan
kesan-kesan seperti itu. Misal kita alami kesan: putih, licin, ringan, tipis.
Atas dasar pengalaman itu tidak dapat disimpulkan, bahwa ada substansi tetap
yang misalnya disebut kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi. Bahwa di dunia ada
realitas kertas, diterima oleh Hume. Namun dari kesan itu mengapa muncul
gagasan kertas, dan bukan yang lainnya? Bagi Hume, "aku" tidak lain
hanyalah "a
bundle or collection of perceptions (= kesadaran tertentu)".
Jika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya, misal batu yang
disinari matahari menjadi panas, kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman.
Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi tidak memperlihatkan kepada
kita urutan sebab-akibat. Yang disebut kepastian hanya mengungkapkan harapan
kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari "probable"
(berpeluang). Maka Hume menolak kausalitas, sebab harapan bahwa sesuatu
mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri, namun hanya dalam
gagasan kita. Hukum alam adalah hukum alam. Jika kita bicara tentang
"hukum alam" atau "sebab-akibat", sebenarnya kita
membicarakan apa yang kita harapkan, yang merupakan gagasan kita saja, yang
lebih didikte oleh kebiasaan atau perasaan kita saja.
David Hume merupakan
pelopor para empirisis, yang percaya bahwa seluruh pengetahuan tentang dunia
berasal dari indera. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang
bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita. Dengan kritisisme
Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua
pendekatan yang bertentangan ini. Kant berpendapat bahwa masing-masing
pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Benarlah bahwa pengetahuan kita
tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor
yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Ada
kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia
tentang dunia. Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti
seperti apa dunia "itu sendiri" ("das
Ding an sich"), namun hanya dunia itu seperti tampak
"bagiku", atau "bagi semua orang". Namun, menurut Kant, ada
dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia. Yang
pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita
ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita. Ruang dan waktu adalah
cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. Yang
kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang
tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Ini bentuk pengetahuan.
Demikian Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat, membuat suatu
sintesis, dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini.
b.
Aliran Rasionalisme: Rene
Descartes
Rasionalisme
adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat
terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalisme suatu pengetahuan diperoleh haruslah dengan cara
berpikir. Pengertian lain rasionalisme atau gerakan rasionalis adalah doktrin
filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran ditentukan melalui pembuktian, logika,
dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran
agama. Rasionalisme mempunyai kemiripan dari segi ideologi dan tujuan dengan humanisme[3]" dan atheisme,
dalam hal bahwa mereka bertujuan untuk menyediakan sebuah wahana bagi diskursus
sosial dan filsafat di luar kepercayaan keagamaan atau takhayul.
Meskipun begitu, ada perbedaan dengan kedua bentuk tersebut:
Humanisme dipusatkan pada masyarakat manusia dan keberhasilannya. Rasionalisme
tidak mengklaim bahwa manusia lebih penting daripada hewan atau elemen alamiah
lainnya. Ada rasionalis-rasionalis yang dengan tegas menentang filosofi
humanisme yang antroposentrik. Ateisme adalah suatu keadaan tanpa kepercayaan
akan adanya Tuhan atau dewa-dewa; rasionalisme tidak menyatakan pernyataan
apapun mengenai adanya dewa-dewi meski ia menolak kepercayaan apa pun yang
hanya berdasarkan iman. Meski ada pengaruh ateisme yang kuat dalam rasionalisme
modern, tidak seluruh rasionalis adalah ateis.
Di luar konteks religius, rasionalisme dapat diterapkan secara
lebih umum, umpama-nya kepada masalah-masalah politik atau sosial. Dalam
kasus-kasus seperti ini, yang menjadi ciri-ciri penting dari perpektif para
rasionalis adalah penolakan terhadap perasaan (emosi), adat-istiadat atau
kepercayaan yang sedang populer. Pada pertengahan abad ke-20, ada tradisi kuat
rasionalisme yang terencana, yang dipengaruhi secara besar oleh para pemikir
bebas dan kaum intelektual. Rasionalisme modern hanya mempunyai sedikit
kesamaan dengan rasionalisme kontinental yang diterangkan René Descartes¹[4]. Perbedaan paling jelas
terlihat pada ketergantungan rasionalisme modern terhadap sains yang
mengandalkan percobaan dan pengamatan, suatu hal yang ditentang rasionalisme
kontinental sama sekali. Latar belakang munculnya rasionalisme adalah keinginan
untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (scholastic), yang
pernah diterima, tetapi ternyata tidak mampu mengenai hasil-hasil ilmu
pengetahuan yang dihadapi.
Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M)[5]. Dalam buku Discourse
de la Methode tahun 1637, ia menegaskan perlu adanya metode yang jitu
sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan
segalanya, secara metodis. Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian
kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan
bagi seluruh pengetahuan.
Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada
satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu "saya ragu-ragu". Ini
bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa "aku ragu-ragu". Jika aku
menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya. Dengan lain,
kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah "cogito ergo
sum", aku berpikir (= menyadari)[6] maka aku ada. Itulah
kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. Mengapa kebenaran itu pasti? Sebab
aku mengerti itu dengan "jelas, dan terpilah-pilah" "clearly
and distinctly", "clara
et distincta". Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang
harus diterima sebagai benar. Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan
kebenaran[7].
Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yang sudah
ada sejak kita lahir, yaitu realitas pikiran (res
cogitan), realitas perluasan (res
extensa, "extention") atau materi, dan Tuhan (sebagai Wujud yang
seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu). Pikiran
sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi
menjadi bagian yang lebih kecil. Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan
dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran. Kedua substansi berasal dari
Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada apa pun juga.
Descartes adalah seorang dualis, menerapkan pembagian tegas antara realitas
pikiran dan realitas yang meluas. Manusia memiliki keduanya, sedang binatang
hanya memiliki realitas keluasan: manusia memiliki badan sebagaimana binatang,
dan memiliki pikiran sebagai-mana malaikat. Binatang adalah mesin otomat,
bekerja mekanistik, sedang manusia adalah mesin otomat yang sempurna, karena
dari pikirannya ia memiliki kecerdasan. (Mesin otomat zaman sekarang adalah
komputer yang tampak seperti memiliki kecerdasan buatan). Descartes adalah
pelopor kaum rasionalis, yaitu mereka yang percaya bahwa dasar semua
pengetahuan ada dalam pikiran.
Descartes menganggap bahwa pengetahuan memang dihasilkan oleh
indera, tetapi karena dia mengakui bahwa indera itu bisa menyesatkan (seperti
dalam mimpi atau khayalan), maka dia terpaksa mengambil kesimpulan bahwa data
inderawi tidak dapat diandalkan. Dia kemudian menguji kepercayaannya kepada
Tuhan, tetapi di sini pun dia menemukan bahwa dia dapat membayangkan Tuhan yang
mungkin bisa menipu manusia. Dalam kesungguhannya mencari dasar yang mempunyai
kepastian mutlak ini, Descartes meragukan adanya surga dan dunia, pikiran dan
badan. Satu-satunya hal yang tak dapat dia ragukan adalah eksistensi dirinya
sendiri karena dia tidak dapat meragukan lagi bahwa dia sedang ragu-ragu.
Bahkan, jika kemudian dia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada, dia berdalih
bahwa penyesatan itu pun merupakan bukti bahwa ada seseorang yang sedang
disesatkan. Batu karang kepastian Descartes ini diekspresikan dalam
bahasa Latin "Cogito
ergo sum" (saya berpikir, karena itu saya ada).
Mengapa kebenaran ini (saya ada) bersifat pasti sama sekali?
Menurut Descartes, hal ini dikarenakan saya mengerti itu dengan jelas dan
terpilah-pilah (clearly and distinctly). Jadi, hanya hal-hal yang saya mengerti
dengan jelas dan terpilah-pilah itulah harus diterima sebagai benar. Dengan
demikian, Descartes berkeyakinan bahwa ia telah menemukan norma untuk
menentukan kebenaran. Menurut Descartes, apa yang jelas dan terpilah-pilah itu
tak mungkin didapatkan dari apa yang berada di luar diri kita. Descartes
menjelaskan, bahwa suatu benda atau peristiwa yang tampak dan dapat kita amati
bukanlah benda atau peristiwa itu sendiri. Adanya benda atau peristiwa kita
ketahui dengan rasio atau akal kita. Suatu benda atau peristiwa pada dirinya
(das ding an sich) tidak dapat diamati. Yang kita amati itu bukanlah benda
(noumena) melainkan penampakannya (fenomena) saja.
Pengetahuan kita tentang
benda atau peristiwa itu sendiri bukan karena wahyu, bukan karena pengamatan,
sentuhan, atau khayalan, melainkan karena pemeriksaan oleh rasio. Apa yang kita
duga kita lihat dengan mata itu hanya dapat kita ketahui dengan kuasa penilaian
kita yang terdapat di dalam rasio. Pengetahuan melalui indera adalah kabur.
Dalam hal ini kita sama dengan binatang. Justru karena kesaksian apa pun dari
luar tidak dapat dipercayai, menurut Descartes, seseorang mesti mencari
kebenaran-kebenaran dalam dirinya, sambil menggunakan norma "jelas dan
terpilah-pilah". Jadi, bagi Descartes satu-satunya sumber pengetahuan yang
sah adalah rasio. Keraguan awal-total merupakan metode yang membuat pengetahuan
menjadi jelas dan terpilah-pilah.
[1]
Tulisan tentang “Sumber Pengetahuan” ini dikutip
dari buku “SOSIOLOGI
Untuk Universitas”, yang ditulis oleh Yasmil Anwar dan Adang.
[2]
Empirisme adalah sebuah orientasi filsafat yang
berhubungan dengan kemunculan ilmu pengetahuan modern dan metode ilmiah.
Empirisme menekankan bahwa ilmu pengetahuan manusia bersifat terbatas pada apa
yang dapat diamati dan diuji. Oleh karena itu, aliran empirisme memiliki sifat
kritis terhadap abstraksi dan spekulasi dalam membangun dan memperoleh ilmu.
Strategi utama pemerolehan ilmu, dengan demikian, dilakukan dengan penerapan
metode ilmiah. Para ilmuwan berkebangsaan Inggris seperti John
Locke, George
Berkeley
dan David
Hume
adalah pendiri utama tradisi empirisme (Calhoun, 2002). Sumbangan utama dari
aliran empirisme adalah lahirnya ilmu pengetahuan modern dan penerapan metode
ilmiah untuk membangun pengetahuan. Selain itu, tradisi empirisme adalah
fundamen yang mengawali mata rantai evolusi ilmu pengetahuan sosial, terutama
dalam konteks perdebatan apakah ilmu pengtahuan sosial itu berbeda dengan ilmu
alam. Sejak saat itu, empirisme menempati tempat yang terhormat dalam
metodologi ilmu pengetahuan sosial. Acapkali empirisme
diparalelkan dengan tradisi positivism. Namun demikian keduanya mewakili
pemikiran filsafat ilmu yang berbeda.
[3]
Pandangan humanistik atau aliran Humanisme,
intinya menolak pandangan Freud
yang menyatakan manusia pada dasarnya tidak rasional, tidak tersosialisasikan,
dan tidak memiliki control terhadap nasib dirinya sendiri. Sebaliknya Rogers, yang
menokohi pandangan humanistik, berpendapat bahwa manusia itu memiliki dorongan
untuk mengarakhan dirinya ketujuan yang positif: manusia itu rasional:
tersosialisasikan dan untuk berbagai hal yang dapat menentukan nasibnya
sendiri. Bila individu berada dalam suasana (kondisi) yang berkembang, maka
individu itu akan mengarahkan dirinya untukmenjadi lebih maju dan positif.
Dengan demikian individu akan tercebas dari kecemasaan dan menjadi anggota
masyarakat yang dapat bertingkah laku secara memuaskan. Selanjutnya Rogers
(1961) mengemukakan gambaran pribadi manusia sebagai aliran atau arus yang
terus menerus mengalir tanpa henti, sebagai sesuatu yang tidak pernah selesai.
Hal ini berarti bahwa pribadi individu merupakan proses menjadi (on becoming)
yang tidak pernah selesai dan tidak pernah sempurna. Dari persfektif tersebut,
"Humanisme" dipandang sebagai sebuah gagasan positif oleh kebanyakan
orang. Humanisme mengingatkan kita akan gagasan-gagasan seperti kecintaan akan
peri kemanusiaan, perdamaian, dan persaudaraan. Tetapi, makna filosofis dari
humanisme jauh lebih signifikan: humanisme adalah cara berpikir bahwa
mengemukakan konsep peri kemanusiaan sebagai fokus dan satu-satunya tujuan.
Dengan kata lain, humanisme mengajak manusia berpaling dari Tuhan yang menciptakan
mereka, dan hanya mementingkan keberadaan dan identitas mereka sendiri. Kamus
umum mendefinisikan humanisme sebagai sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan
pada berbagai nilai, karakteristik, dan tindak tanduk yang dipercaya terbaik
bagi manusia, bukannya pada otoritas supernatural mana pun".
[4]
Descartes (1596-1650) biasanya dipandang sebagai
bapak filsafat modern. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Bertrand Russel
dalam History
of Western Philosophy. Descartes merupakan orang pertama yang memiliki
kapasitas filosofis yang sangat dipengaruhi oleh fisika baru dan astronomi, la
banyak menguasai filsafat Scholastic, namun ia tidak menerima dasar-dasar
filfasat Scholastic yang dibangun oleh para pendahulunya, la berupaya keras
untuk mengkonstruksi bangunan baru filsafat. Hal ini merupakan terobosan baru
semenjak zaman Aristoteles dan hal ini merupakan sebuah neo-self-confidence
yang dihasilkan dari kemajuan ilmu pengetahuan. (B. Russel, History of Westem
Philosophy, 542) Ada sesuatu yang baru dalam filsafat Descartes yang tidak
dijumpai dalam filosof-filosof besar semenjak Plato. Seluruh filosof abad
pertengahan merupakan pengajar, sementara Descartes adalah penulis, bukan
sebagai pengajar, la adalah penjelajah dan perandi Pran orang yang cemas terhadap
komunitas yang didapatinya. Rene Descartes (1598-1650) dilahirkan di Prancis.
la belajar filsafat pada kolose yang dipimpin pater-pater Yesuit
di desa La Fleche. Descartes terkenal sebagai seorang matematikawan dan
dinobatkan sebagai "Bapak Pendiri Filsafat Barat-Modern". Salah satu
karya besar Descartes adalah Discourse
on Method (1637) yang ditulis dalam bahasa Prancis dengan gaya penulisan
yang menarik perhatian di zamannya. Dalam buku tersebut Descartes menyatakan
tidak puas dengan tradisi filsafat dan ilmu pengetahuan, kemudian ia
menjelaskan tujuan hidupnya untuk membimbing akal manusia ke arah penemuan
kebenaran yang sistematis dan penghapusan kesalahan. Setelah karya Discourse on
Method, menyusulah karya selanjutnya yang menjadi karya utama Descartes, yaitu Meditations
of First Philosophy yang diterbitkan dalam bahasa Latin pada tahun 1644.
Selanjutnya, segera menyusul seri keberatan-keberatan para penulis disertai
jawaban Descartes sendiri pada mereka. Karya filsafat lainnya ialah The
Principles of Philosophy yang terbit tahun 1644, dan Passion
of the Soul tahun 1649. The Principles of Philosophy merupakan usaha
ambisius Descartes untuk menyusun secara sistematis metode filsafatnya dan dari
situ ia menarik suatu dasar bagi pertanggungjawaban dunia fisik. Adapun Passion
of the Soul merupakan pengukuhan dari filsafat penalaran..
[5]
Descartes di samping tokoh rasionalisme juga
dianggap sebagai bapak filsafat (moderen), terutama karena dia dalam
filsafat-filsafat sungguh-sungguh diusahakan adanya metode serta penyelidikan
yang mendalam. Ada dua alasan mengapa Descartes dinobatkan sebagai "Bapak
Filsafat Barat-Modern". Pertama, karena ia berusaha keras untuk mencari
satu-satunya metode dalam seluruh cabang penyelidikan manusia. Kedua, karena ia
memperkenalkan dalam dunia filsafat suatu konsep dan argumen yang ia gunakan
sebagai pendobrak pemikiran Abad Pertengahan dan sebagai prinsip dasar
filsafatnya. Lihat Roger Scruton, Sejarah Singkat Filsafat Modern: Dari
Descartes Sampai Wittgenstein, alih bahasa: Zainal Arifin Tandjung, PT. Pantja
Simpati: Jakarta, 1986, hal. 31. Disebutkan dalam sebuah sejarah yang
mengisahkan dirinya, ia ahli dalam ilmu alam, ilmu hukum, dan ilmu kedokteran.
la yang mendirikan aliran Rasionalisme berpendapat bahwa sumber pengetahuan
yang dapat dipercayai adalah akal. la tidak puas dengan filsafat scholastik
karena dilihatnya sebagai saling bertentangan dan tidak ada kepastian. Adapun
sebabnya karena tidak ada metode berpikir yang pasti. Descartes merasa
benar-benar ketegangan dan ketidakpastian merajalera ketika itu dalam kalangan
filsafat. Scholastic tak dapat memberi keterangan yang memuaskan kepada ilmu
dan filsafat baru yang dimajukan ketika itu kerapkali bertentangan satu sama
lain. Descartes mengemukakan metode baru yaitu metode keragu-raguan.
Seakan-akan ia membuang segala kepastian, karena ragu-ragu itu suatu cara
berpikir. la ragu-ragu bukan untuk ragu-ragu, melainkan untuk mencapai
kepastian. Adapun sumber kebenaran adalah rasio. Hanya rasio sejarah yang dapat
membawa orang kepada kebenaran. Rasio pulalah yang dapat memberi pemimpin dalam
segala jalan pikiran. Adapun yang benar itu hanya tindakan budi yang terang
benderang, yang disebutnya ideas claires et distinctes. Karena rasio saja yang
dianggap sebagai sumber kebenaran, maka aliran ini disebut Rasionalisme.
[6]
Yang dimaksudkan Descartes dengan istilah
"berpikir" adalah "menyadari". Pikiran memang merupakan
salah satu bentuk kesadaran, dan dalam arti itu kesangsian metodis
(skeptisisme) tadi disebutnya "saya berpikir", dan karena saya
berpikir, jelaslah saya ada. Itulah kebenaran yang bagaimanapun tak dapat
disangkal. Perlu ditegaskan disini bahwa makna keraguan metodis (skeptisime)
Descartes adalah mengarah pada satu langkah awal/titk tolak yang netral
(mengesampingkan semua aspek praduga baik itu budaya maupun agama) dalam
mendapatkan pengetahuan. Dan bukan "skeptisime" yang dikemukakan oleh
David Hume, yakni skeptisime bukan langkah awal tapi menjadi langkah
ahir/kesimpulan, bahwa kita tidak mungkin mengetahui apapun. K.
Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, Kanisius: Yogyakarta, 1999, hlm. 46.
[7] Pernyataan atau tesis "cogito ergo sum", menjadi sangat masyhur dalam sejarah pemikiran Barat-Modern, karena memiliki pengaruh yang dominan bagi pembentukan dan corak "ke-modern-an" masyarakat Barat. Dengan demikian, pemahaman terhadap Descartes menjadi penting karena tidak hanya sebagai kunci untuk memahami karakteristik masyarakat Barat dewasa ini, tetapi juga sebagai kunci untuk melacak jejak transformasi nilai-nilai dan karakteristik (kemodernan) masyarakat Barat-Modern terhadap masyarakat lainnya di bebagai penjuru dunia. Dalam rangka penulisan miniskripsi ini, tesis Rene Descartes Cogito Ergo Sum (aku berpikir, maka aku ada) menjadi inti bahasannya. Cogito Ergo Sum tersebut memiliki konsekuensi lahirnya Rasionalisme. Paham ini dengan jelas sangat mengunggulkan dan mementingkan rasio daripada realitas yang dipikirkannya. Akhirnya, rasiolah yang menjadi indikasi keberadaan (eksistensi) si subjek (aku) yang mengetahui sesuatu. Bagi Descartes, rasio adalah instansi tertinggi untuk mengetahuai sesuatu. Pengetahuan merupakan jalan, bukti keberadaan (eksistensi) manusia, dan bahkan menjadi ukuran ke bernilai-an manusia. Berdasarkan konsep tersebut, ukuran atau norma suatu kebenaran adalah suatu pemikiran yang jelas, definitif, analitik, dan "terpilah-pilah". Di luar kriteria tersebut harus ditolak atau diragukan sebagai ilmu pengetahuan yang absah (benar). Oleh karena itu, bagaimana persisnya proses keraguan (skeptis) dan apa buktinya keraguan (skeptis) merupakan titik tolak yang netral menuju keyakinan dan pengetahuan yang benar? Selanjutnya dapat di telaah dalam Louis O. Kattsoff, PengantarFilsafat, alih bahasa; Soejono Soemargono, Tiara Wacana: Yogyakarta, 2004), hal: 135 serta, dalam: Abdul Munir Mulkhan, Mencari Tuhan dab Tujuh Jalan Kebebasan: Sebuah Esai Pemikiran ImamAl-Ghazali, Bumi Aksara: Jakarta, 199, hal: 43

Tidak ada komentar:
Posting Komentar